Writer vs Author: Beda Atau Sama?

By | April 7, 2018

Sobat pembaca setia, kali ini englishforsma.com akan membahas dua nomina yang saling berdekatan dalam hal makna, yakni writer dan author. Secara teknis, kedua kata ini sinonim, dan seringkali bisa dipertukarkan, meskipun tidak selalu. Dan kalau sobat merujuk pada definisi yang diberikan kamus, sobat pasti melihat persilangan makna di sana. Justru karena itulah kedua kata tersebut sering membingungkan, bahkan bagi penutur asli.

Jadi, jelasnya bagaimana? Mari kita bahas satu per satu.

WRITER

Bicara soal menulis, orang bisa menulis apapun: newsletter, teks pada kotak cereal, manual, artikel di majalah, skripsi, puisi, novel, cerita pendek, naskah drama, naskah film, dan lain-lain. Jenis-jenis tulisan menentukan apakah seseorang penulis akan disebut author atau writer. Nah, lazimnya, seorang yang menulis newsletter, naskah pidato (untuk orang penting), pamflet, brosur, teks di kotak cereal, sebagai bagian dari pekerjaan hariannya disebut writer, bukan author. Tulisan-tulisan tersebut adalah tulisan keseharian.

Kalau sobat pernah menulis skripsi atau tesis pasca sarjana, yang tentu tidak dipublikasikan, sobat hanya bisa disebut writer, bukan author. Dan seandainya sobat juga menulis puisi atau cerita pendek, tetapi hanya sobat simpan dan tak pernah dipublikasikan, sobat hanya bisa disebut writer, dalam pengertian you wrote the works.

AUTHOR

Banyak penulis lebih suka menyebut dirinya author karena mereka menulis karya-karya sastra (sering disebut sebagai literary works) berbentuk novel, cerpen, naskah drama, puisi, dan, termasuk di dalamnya, buku. Mereka merasa ada nuansa lebih ‘profesional’ dalam kata tersebut. Kata author sering mengisyaratkan originalitas ide. Jadi dengan kata lain, seorang author itu menciptakan gagasan. Penyair, novelis, penulis naskah drama, misalnya sangat layak disebut author, karena mereka menciptakan gagasan atau plot cerita mereka sendiri.

Apakah orang yang menulis karya-karya sebagaimana disebut di atas bisa disebut writer? Bisa saja. Dan sah-sah saja. Dan bagi seorang penulis yang karyanya pernah dipublikasikan, artikel di surat kabar atau majalah, misalnya, ini hanya soal preferensi saja dia mau menyebut dirinya sendiri sebagai author atau writer (meskipun banyak yang lebih suka menyebut diri sebagai author). Juga di era digital sekarang ini, ketika banyak orang tak lagi memerlukan penerbit karena mereka bisa mempublikasikan tulisannya sendiri, orang bisa menjadi author untuk tulisan-tulisannya, meskipun tentu bisa jua disebut writer.

Kesimpulannya begini, sobat pembaca. Pertama, kata author dipakai dalam konteks yang lebih spesifik daripada kata writer. Untuk karya-karya seperti buku, cerita pendek, puisi, novel yang diterbitkan, bahkan artikel yang dipublikasikan di surat kabar, majalah, baik cetak maupun elektronik, penulisnya bisa disebut author atau writer, sama saja, meskipun kebanyakan penulis lebih suka menyebut dirinya author.

Kedua, untuk karya-karya yang tidak dipublikasikan seperti skripsi atau tesis, penulisnya hanya bisa disebut writer, dan TIDAK PERNAH disebut author. Untuk jenis-jenis tulisan sehari-hari seperti newsletter, naskah pidato, pamflet, instruksi manual, dan lain-lain, penulisnya hanya bisa disebut writer.

Semoga membantu

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *