His Face Rings A Bell

By | March 23, 2021

Salah satu kegemaran saya adalah mendengarkan penutur asli bicara dengan aksen mereka yang natural, dan ungkapan-ungkapan yang biasa mereka gunakan sehari-hari. Ada satu kanal podcast di Spotify yang saya sukai: American English Podcast. Banyak cerita seru seputar budaya Amerika dan ungkapan-ungkapan menarik, yang menambah wawasan dan simpanan kosakata kita.

Salah satu ungkapan yang pernah dibahas di kanal tersebut, yaitu RING A BELL. Kita sering mendengar frasa ini. Secara harafiah frasa ini berarti membunyikan lonceng. Dalam konteks sehari-hari memang bisa bermakna literal seperti itu. Tetapi, frasa tersebut juga merupakan idiom, dan sebagai idiom tentu bukan itu yang dimaksud. Sebagai idiom, ungkapan tersebut juga bermakna figuratif.

Kalau sesuatu – entah nama orang, wajah, kata-kata, benda tertentu atau apapun yang lain – “ring a bell”, sesuatu itu mengingatkan kita pada sesuatu, tetapi tidak jelas benar apa itu. Semacam lupa-lupa ingat. Atau, semacam pernah mendengar, melihat, atau membaca tentang sesuatu/seseorang tapi tidak jelas apa atau siapa atau di mana. Sebaliknya, jika sesuatu tidak ‘ring a bell’, sesuatu itu tidak mengingatkan kita pada apapun.

Misalnya begini. Kita pasti pernah mengalami kejadian ini. Kita berjumpa dengan seseorang, dan kita tidak tahu siapa dia, tetapi kita merasa tidak asing dengan wajahnya. Kita merasa pernah melihat wajahnya tetapi lupa di mana dan kapan. Kita seperti ingat pernah melihat wajah itu, tetapi ingatan itu samar-samar. Seolah-olah wajahnya mengingatkan kita pada wajah tertentu, tetapi tidak jelas wajah siapa, di mana, dan kapan.

Ini contoh lain. Sobat menghadiri sebuah seminar. Di akhir salah satu sesi seminar, pembicara menyampaikan suatu kutipan menarik untuk menutup sesinya. Sobat merasa tidak asing dengan kutipan tersebut. Kutipan tersebut mengingatkan sobat pada sesuatu, tetapi tidak jelas benar apa itu, dan sobat merasa pernah mendengar kutipan itu. Kutipan tersebut ‘ring a bell.’

  • I don’t know who she is, but her face rings a bell. – Saya tidak tahu siapa dia tapi wajahnya sepertinya tidak asing (tapi lihat di mana ya).
  • The quote he mentioned at the end of his session rang a bell. – Kutipan yang dia sebutkan di akhir sesinya tidak asing (saya pernah dengar tapi di mana ya?)
  • Her name rings a bell but I don’t remember where I heard it. – Namanya sepertinya tidak asing, tetapi saya tidak ingat di mana saya mendengarnya.
  • The theory you just mentioned doesn’t ring a bell. Sorry. – Teori yang baru saja kamu sebutkan tidak mengingatkan saya pada apapun. Maaf.
Author: Admin

Hi, I am Widi. I am an English teacher, blogger, translator, workshop facilitator, writing addict, and photography enthusiast, living in Yogyakarta. I teach, I write, therefore I am.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *