Don’t Spill the Beans!

By | March 8, 2021

Di awal bulan Maret 2021 lalu kelas bahasa Inggris daring saya terasa berbeda. Hari itu murid-murid saya diajar oleh Pak Gavin, penutur asli dari England, UK. Saya hadir menemani sambil sekali-sekali saya mengatakan sesuatu untuk mendorong mereka terlibat aktif. Topik yang diangkat adalah idiom, ungkapan yang bersifat tetap dan tidak bisa diubah-ubah, seringkali bermakna figuratif, dan tidak serta merta bisa dipahami maksudnya.

Pak Gavin sendiri sebagai penutur asli, menurut pengakuannya, jarang menggunakan idiom dalam percakapan sehari-hari. Salah satu alasannya adalah, tidak semua orang paham idiom, bahkan termasuk penutur asli. Tentu saja jarang tidak berarti tidak pernah. Pak Gavin menggunakan idiom yang memang lazim dipakai saja.

Ada cukup banyak idiom yang diajarkan dalam kelas hari Rabu itu, tetapi dipilih yang sering dipakai saja. Salah satunya adalah spill the beans, yang kita bahas dalam tulisan pendek ini. Secara harafiah ungkapan ini berarti menumpahkan kacang. Maksud sebenarnya dari ungkapan ini adalah membocorkan informasi yang belum waktunya dibuka atau yang seharusnya dirahasiakan. Ungkapan ini digunakan dalam British maupun American English. Misalnya begini:

  • The welcome home party is supposed to be a surprise. Don’t spill the beans! – Pesta menyambut kepulangan itu seharusnya menjadi kejutan. Jangan bocorkan.
  • Jane spilled the beans about her best friend’s affair with a minister. – Jane membocorkan perselingkuhan teman baiknya dengan seorang menteri.

Pertanyaannya kenapa mesti pakai kacang? Kok tidak, misalnya, susu, kopi, sirup? Jawaban ngasalnya, ya suka-suka mereka … he he he he he … Tapi gak asik ah kalau seperti itu. Hmmm begini, menurut sumber yang saya baca, salah satu teori menyebutkan ungkapan ini didasarkan pada tradisi Yunani kuno.

Konon, pemungutan suara sering dilakukan menggunakan kacang. Orang menggunakan kacang warna putih untuk menyatakan setuju, dan warna gelap (coklat atau hitam) untuk menyatakan tidak setuju. Kacang-kacang itu dimasukkan ke dalam buli-buli dari tanah liat secara rahasia. Dan ketika buli-buli tersebut dipecahkan, seluruh kacang di dalamnya tumpah keluar, dan kemudian proporsi suara setuju dan tidak setujunya bisa diketahui.

Dalam bahasa Inggris ada satu ungkapan lain yang persis sama, yaitu spill the tea. Ungkapan ini baru muncul sekitar 1990 an, dan awalnya ungkapan itu berbunyi spill the T. Huruf T di sini adalah singkatan dari Truth, dan karena persamaan bunyi antara T dan tea, jadilah ungkapan itu kemudian menjadi spill the tea.

Author: Admin

Hi, I am Widi. I am an English teacher, blogger, translator, workshop facilitator, writing addict, and photography enthusiast, living in Yogyakarta. I teach, I write, therefore I am.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Warning: Illegal string offset 'subject' in /home/englishf/public_html/wp-content/plugins/spamlord/spamlord.php on line 86