At that Time vs At the Time: Sama atau Beda?

By | October 2, 2022

Sobat pembaca setia, topik yang kita angkat kali ini adalah dua ungkapan yang sekilas sangat mirip. Kedua ungkapan tersebut adalah ‘at that time‘ dan ‘at the time‘. Kedua ungkapan tersebut secara makna, terutama jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, dapat dikatakan sama.

Bayangkan sobat menceritakan kepada seorang teman suatu peristiwa tertentu yang terjadi di waktu lampau, dan kemudian pada titik tertentu sepanjang percakapan, sobat merujuk kembali kepada peristiwa atau waktu yang sebelumnya sobat sudah ceritakan. Dalam bahasa Indonesia sobat pasti akan menyebut ‘waktu itu’ atau ‘pada saat itu’.

Dalam konteks bahasa Inggris, untuk  mengungkapkan makna frasa ‘waktu itu’ atau ‘pada saat itu’ penutur asli akan menggunakaan at that time atau at the time. Sama atau beda sebenarnya?  Kedua frasa tersebut sering dipertukarkan dalam komunikasi sehari-hari. Meskipun demikian, baik kalau kita cermati perbedaannya. Mari kita bahas masing-masing frasa.

At That Time

Lazimnya frasa ini digunakan dalam dua konteks berbeda. Pertama, frasa at that time digunakan ketika sobat hendak menegaskan waktu yang spesifik kapan suatu peristiwa terjadi. Yang dimaksud dengan spesifik di sini adalah penyebutan jam kapan persisnya suatu peristiwa atau kejadian terjadi. Misalnya:

  • I arrived at the wedding venue at 11.00 AM. At that time, the bride’s father was giving a speech. – Saya tiba di tempat pernikahan pukul 11.00 siang. Pada waktu itu, ayah pengantin laki-laki sedang memberikan sambutan.

Konteks kedua adalah ketika sobat berbicara dalam situasi formal dan ingin terdengar formal. Secara khusus frasa ini lazim digunakan dalam pertemuan-pertemuan pers (asosiasi pers mengundang individu untuk bersemuka dengan perwakilan pers).

At the Time

Frasa ini jauh lebih populer dan digunakan oleh sebagian besar penutur asli. Frasa ini digunakan dalam segala situasi ketika sobat hendak merujuk pada peristiwa tertentu, terlepas dari apakah waktu kejadian spesifik disebutkan atau tidak. Untuk contoh di atas pun, frasa ini bisa dipakai.

Jadi, sobat pembaca, ini masalah pilihan saja. Kedua frasa tersebut digunakan penutur asli, hanya saja frasa at the time lebih populer. Tetapi, jika sobat ingin menggunakan frasa at that time karena ingin terdengar lebih formal, juga dipersilakan.

Semoga membantu.

Author: Noeg

English teacher, blogger, translator, workshop facilitator, writing addict, and photography enthusiast, living in Yogyakarta. I teach, I write, therefore I am.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 3 =